Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak Pada MP PAI di Sekolah Dasar Negeri 34/V Sungai Saren

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Di sekolah, anak didik belajar menurut gaya mereka masing-masing. Perilaku anak didik bermacam-macam dalam menerima pelajaran guru, seorang anak didik dengan tekun dan penuh konsentrasi menerima pelajaran dari guru dengan cara mendengarkan pelajaran guru atau mengerjakan tugas yang telah diberikan. Anak didik yang lain disela-sela penjelasan guru, mengambil kesempatan membicarakan hal-hal yang lain terlepas dari masalah pelajaran. Di waktu yang lain ada anak didik yang duduk melamun yang terlepas dari pengamatan guru.[1]

Ketiadaan minat suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab kenapa anak didik tidak bergeming untuk mencatat apa-apa yang telah di sampaikan oleh guru. Itulah sebagai pertanda bahwa anak didik tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Ketiadaan motivasi instrinsik ini merupakan masalah yang memerlukan bantuan yang tak bisa di tunda-tunda. Guru harus memberikan Suntikan dalam bentuk motivasi ekstrinsik. Sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.[2]

Selanjutnya yang perlu diselidiki apabila ada seorang anak didik tidak, misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan dalam kegiatan belajar, maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu biasanya bermacam-macam, mungkin ia tidak senang, mungkin sakit, lapar, ada problem pribadi dan lain-lain. Hal ini berarti pada diri anak didik tidak terjadi perubahan energi, tidak terangsang afeksinya untuk melakukan sesuatu karena tidak memiliki tujuan dan kebutuhan belajar. Keadaan semacam ini perlu dilakukan daya upaya yang dapat menemukan sebab musababnya dan kemudian mendorong seorang siswa itu mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata lain, siswa itu perlu diberikan rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya.[3]

Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, menggerakkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, sehingga semakin besar motivasinya, maka semakin besar kesuksesan belajarnya. Seseorang yang besar motivasinya akan giat berusaha, tampak gigih, tidak mau menyerah, giat membaca buku-buku untuk meningkatkan prestasinya. Sebaliknya seseorang yang motivasinya lemah tanpak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak menuju pada pelajaran, akibatnya banyak mengalami kesulitan belajar.[4]

Upaya peningkatan proses dan hasil belajar perlu diwujudkan agar diperoleh kualitas sumber daya manusia yang dapat menunjang pembangunan nasional, upaya tersebut menjadi tugas dan tanggung jawab semua tenaga kependidikan, walaupun demikian peranan guru sangat menentukan, sebab gurulah yang langsung dalam membina para siswa di sekolah melalui proses interaksi belajar mengajar sehingga guru berperan aktif dalam membimbing dan mengorganisir terhadap kondisi belajar anak.

Permasalahan yang sering kita jumpai dalam pengajaran khususnya pengajaran agama Islam adalah bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa secara baik sehingga diperoleh hasil yang efektif dan efisien, disamping masalah lainnya yang sering didapati adalah kurangnya perhatian guru agama terhadap variasi penggunaan metode mengajar dalam upaya peningkatan mutu pengajaran secara baik.[5]

Salah satu usaha untuk memberikan motivasi belajar anak adalah dengan menciptakan situasi dan kondisi yang sedemikian rupa agar anak lebih tertarik terhadap setiap pelajaran yang disampaikan oleh guru selanjutnya anak itu merasa butuh terhadap pelajaran yang disampaikan, dengan perkataan lain bahwa bagi anak sudah merupakan suatu kebutuhan dalam rangka mencapai cita-cita yang di harapkan.

Untuk dapat membuat anak dapat berminat dalam belajarnya, maka bagi seorang guru dapat memanfaatkan suatu media pendidikan yang telah ada yang di dalamnya terdapat alat peraga baik yang berupa visual atau media audio visual, dengan demikian materi pembelajaran yang di capai anak bersifat verbalistik. Hal ini sesuai dengan yang dikemukan S. Nasution bahwa pelajaran dapat berlangsung lancar bila ada minat antara lain dapat di bangkitkan dengan cara menggunakan berbagai macam bentuk mengajar seperti kerja kelompok, membaca, demonstrasi.[6]

Dengan demikian jelaslah bahwa dalam kegiatan proses belajar mengajar diperlukan adanya minat yang tinggi dan minat anak akan timbul apabila guru dapat memberikan motivasi terhadap anak dan berhasil tidaknya motivasi tersebut tergantung pada keterampilan guru dalam memanfaatkan media pendidikan yang ada.

Selanjutnya prestasi belajar siswa dapat dilihat dalam buku laporan atau raport siswa yang memuat berbagai nilai hasil belajar, termasuk berbagai catatan tentang diri siswa, berupa sikap, tingkah laku, kedisiplinan dan sebagainya. Dengan demikian buku raport sangatlah penting artinya bagi guru guna mengetahui keberhasilan suatu sistem belajar mengajar dan perbaikanperbaikan pada tahap berikutnya.

Peneliti memilih SD Negeri 34/V Sungai Saren sebagai objek penelitian ini karena menurut pengamatan pendahuluan peneliti bahwa kegiatan-kegiatan Keagamaan Islam di SD Negeri 34/V Sungai Saren cukup banyak antara lain; Penyelenggaraan Baca Tulis Al-Qur’an (BTA), Tilawah, Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), Tadabbur Alam, dan sebagainya. Di samping itu, letak lokasi SD Negeri 34/V Sungai Saren mudah dijangkau dari tempat kediaman peneliti, sehingga memungkinkan peneliti bisa lebih intensif dalam melakukan penelitian. Lagi pula peneliti pernah bertugas dalam Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SD Negeri 34/V Sungai Saren pada tanggal 1-23 Juni 2009. Di situlah peneliti dapat mengamati bagaimana Kegiatan Keagamaan Islam (Rohis) di SD Negeri 34/V Sungai Saren. Secara kebetulan guru pamong peneliti yaitu ibu Siamah, A.Md., merupakan pembimbing dari kegiatan keagamaan Islam di SD Negeri 34/V Sungai Saren pada saat itu. Hal inilah yang menjadi pertimbangan dalam memilih lokasi atau objek penelitian ini.

Adapun pentingnya masalah ini diteliti adalah karena sepanjang pengetahuan peneliti sangat penting diketahui dengan harapan dapat meningkatkan efektifitas kegiatan keagamaan Islam terhadap prestasi belajar pendidikan agama Islam anak di SD Negeri I Sungai Saren. Berdasarkan keterangan tersebut mendorong peneliti mengangkat tema ini dengan judul: Peran Orang Tua  Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak Pada Mata Pelajaran Pendidikan gama Islam di Sekolah Dasar Negeri 34/V Sungai Saren. Merujuk pada permasalahn tersebut di atas, tampaknya guru perlu memperhatikan kondisi ekstern dan intern siswa yang belajar. Sejalan dengan hal itu, maka dalam penelitian ini akan dipelajari pengertian peran orang tua dan pentingnya peranan orang tua, jenis dan sifat peran orang tua dalam peningkatan prestasi belajar dalam PAI.

  1. B. Rumusan Masalah

Merujuk pada latar belakang masalah penulis mengemukakan permasalahan dalam skripsi sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah peran orang tua dalam meningkatkan prestasi anak pada mata pelajaran PAI di SD Negeri 34/V sungai Saren.
  2. Apa kendalan dan permasalahan yang dihadapi guru dalam meningkatkan oprestasi belajar PAI anak di SD Negeri 34/V sungai Saren.
  3. Apa usaha-usaha dalam mengatsi kendala dan permasalahan yang dihadapi.
  1. C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
  2. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Ingin mengetahui peran guru agama dalam meningkatkan prestasi anak pada mata pelajaran PAI di SD Negeri 34/V sungai Saren.
  2. Ingin mengetahui kendalan dan permasalahan yang dihadapi guru dalam meningkatkan oprestasi belajar PAI anak di SD Negeri 34/V sungai Saren.
  3. Ingin mengetahui usaha-usaha dalam mengatsi kendala dan permasalahan yang dihadapi.
  4. Kegunaan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui peran guru agama dalam meningkatkan prestasi anak pada mata pelajaran PAI di SD Negeri 34/V sungai Saren.
  2. Untuk mengetahui kendalan dan permasalahan yang dihadapi guru dalam meningkatkan oprestasi belajar PAI anak di SD Negeri 34/V sungai Saren.
  3. Untuk mengetahui usaha-usaha dalam mengatsi kendala dan permasalahan yang dihadapi.
  4. Untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar sarjana strata satu (S.34/V) dalam Ilmu Tarbiyah Jurusan Pendidikan Islam pda STAI An-Nadwah Kuala Tungkal.
  1. D. Diskripsi Teori
  2. 1. Hakikat Peran Orang Tua
    1. Pengertian Peran Orang Tua

Menurut Edy Suhardono makna dari kata peran adalah suatu penjelasan yang merujuk pada konotasi ilmu sosial, yang mengartikan peran sebagai suatu fungsi yang dibawakan seseorang ketika menduduki suatu karakterisasi (posisi) dalam struktur sosial.[7]

Menurut Peter Warsley et.al mengartikan peran sebagai seperangkat alat-alat yang telah dikembangkan oleh para sosiolog untuk menggarap hubungan-hubungan yang kompleks.[8]

Menurut Drs. H. Abu Ahmadi dkk, peran adalah suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu berdasarkan status dan fungsi sosialnya.[9]

Peran adalah perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat.[10]

Orang tua adalah orang yang bertanggung jawab dalam satu keluarga atau rumah tangga yang biasa disebut ibu/bapak.[11]

Orang tua yaitu orang-orang yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup anak.[12]

Orang tua yaitu orang yang dianggap tua (cerdik, pandai, ahli dan sebagainya)., orang-orang yang dihormati (disegani di kampung).[13]

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa peran orang tua merupakan suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap sebagai orang yang mempunyai tanggung jawab dalam satu keluarga, dalam hal ini khususnya peran terhadap anaknya dalam hal pendidikan, keteladanan, kreatif sehingga timbul dalam diri anak semangat hidup dalam pencapaian keselarasan hidup di dunia ini.

Dalam sebuah keluarga orang tua merupakan pendidik yang pertama dan utama. Keutamaan yang ada pada dirinya bukan saja karena sebagai petunjuk jalan dan bimbingan kepada anak tetapi juga karena mereka adalah contoh bagi anak-anaknya. Dengan demikian orang tua dituntut untuk mengarahkan, menuntut/membimbing anak karena anak pada kenyataannya bukanlah orang dewasa yang berbentuk kecil. Sehingga sebagai orang tua mempunyai kewajiban memelihara keselamatan kehidupan keluarga, baik moral maupun material.

Sebagaimana firman Allah surat At-Tahrim ayat 6 :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.[14]

Jadi lingkungan keluarga terutama orang tua berperan besar, karena merekalah yang langsung atau tidak langsung berhubungan dengan anak. Sehingga orang tua dapat didefinisikan segala hal ikhwal, ucapan maupun sikap yang patut ditiru dan dimiliki oleh seseorang yang bertanggung jawab pada kelangsungan hidup anak yang biasa disebut ibu/bapak.

  1. Peran Orang Tua Terhadap Anak

Orang tua mempunyai kedudukan yang utama dalam sebuah keluarga karena dari keluarga itu orang tua sebagai pendidik yang pertama bagi anak-anaknya. Begitu juga dalam hal pengetahuan yang bersifat umum maupun khusus sangat diperhatikannya. Ini artinya dalam keluarga orang tua memberikan bekal pada anaknya itu secara global.

Peran orang tua akan sangat dipengaruhi oleh peran-perannya atau kesibukannya yang lain. Misalnya, seorang ibu yang disibukkan pekerjaannya akan berbeda dengan perannya ibu yang sepenuhnya konsentrasi dalam urusan rumah tangga. Bagaimanapun peran seseorang sebagai orang tua, ditentukan pula oleh kepribadiannya.

Secara umum orang tua mempunyai tiga peranan terhadap anak:

1)      Merawat fisik anak, agar anak tumbuh kembang dengan sehat

2)      Proses sosialisasi anak, agar anak belajar menyesuaikan diri terhadap lingkungannya (keluarga, masyarakat, kebudayaan)

3)      Kesejahteraan psikologis dan emosional dari anak.[15]

Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini terlihat adanya orang tua yang terjadi begitu memperhatikan perannya masing-masing. dengan meningkatnya pendidikan dan perkembangan iptek membuka luas kesempatan bagi wanita untuk mendapatkan profesi seperti juga kaum lelaki. Sehingga banyak terbukti istri/ibu yang bekerja penuh di luar rumah. Ini berpengaruh terhadap peran-peran yang lain yang jelas bahwa jika peran dari salah seorang anggota keluarga dalam hal ini ayah/ibu berubah, maka akan berubah pula peran dari masing-masing.

Dengan   perkataan lain, bagaimana pengaruh orang tua terhadap pembentukan perilaku anaknya, merupakan suatu yang sangat majemuk, tergantung dari bermacam-macam faktor, antara lain:

1)      ciri-ciri orang tua:

-          usia

-          pendidikan

-          taraf sosial-ekonomi

-          kepribadian dan sebagainya

2)      ciri-ciri anak

-          penampilan fisik

-          jenis kelamin

-          kesehatan

-          kepribadian dan lain sebagainya.[16]

Faktor-faktor ini akan mempunyai pengaruh terhadap sikap dan perilaku orang tua pada anaknya. dengan demikian sulit bagi orang tua untuk memperlakukan sama terhadap anaknya.

  1. Fungsi orang tua terhadap anaknya

Keluarga merupakan unit masyarakat kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. tempat manusia mula-mula dididik. disitulah berkembangnya individu dan terbentuknya tahap-tahap awal pemasyarakatan. Sekurang-kurangnya ada lima fungsi keluarga, yang bila dilihat dari segi pendidikan akan sangat menentukan kehidupan seseorang:

1)      Keluarga dibentuk untuk reproduksi, keturunan, ini merupakan tugas suci agama yang dibebankan kepada manusia-transmisi pertama melalui fisik.

2)      perjalanan keluarga selanjutnya mengharuskan ia bertanggung jawab, dalam bentuk pemeliharaan yang harus diselenggarakan demi kesejahteraan keluarga, anak-anak perlu pakaian yang baik, kebersihan, permainan yang sehat, makanan yang bergizi.

3) lebih jauh keluarga berjalan mengharuskan ia menyelenggarakan sosialisasi, memberikan arah pendidikan, pengisian jiwa yang baik danbimbingan kejiwaan.

4)      d. referensi adalah fungsi selanjutnya, karena hidup adalah “just a matter of choice” maka orang tua harus mampu memberikan referensi yang terbaik untuk anggota keluarga, terutama anak-anaknya. freferensi adalah tindak lanjut dari sosialisasi orang memberikan frefensi jalan mana yang harus ditempuh dalam kehidupan anak.

5)      pewarisan nilai kemanusiaan, yang minimal dikemudian hari dapat menciptakan manusia damai, anak shaleh yang suka mendoakan orang tua secara teratur, yang mengembangkan kesejahteraan sosial dan ekonomi umat manusia yang mampu menjaga dan melaksanakan hak azasi kemanusiaan yang adil dan beradab dan yang mampu menjaga kualitas dan moralitas lingkungan hidup.[17]

Fungsi  orang tua menurut prof. dr. zakiah daradjat dkk, adalah:

1)      pendidik yang harus memberikan pengetahuan, sikap dan ketrampilan terhadap anggota keluarga yang lain di dalam kehidupannya,

2)      pemimpin keluarga yang harus mengatur kehidupan anggota,

3)      contoh yang merupakan tipe ideal di dalam kehidupan dunia, dan

4)      penanggung jawab di dalam kehidupan baik yang bersifat fisik dan materiel maupun mental spiritual keseluruhan anggota keluarga.[18]

Secara umum dapat dikatakan, bahwa bagaimana pengaruh orang tua terhadap perkembangan perilaku kepribadian anaknya ditentukan oleh sikap, perilaku dan kepribadian orang tua.[19] sehingga fungsi orang tua sangat dominan pada diri anak. diantaranya sebagai pendorong kemajuan. contoh perilaku orang tua yang menerima anak:

-          menunjukkan perhatian dan kasih sayang

-          berperan serta dalam kegiatan anak

-          perhatian terhadap prestasi sekolah anak

-          percaya pada anak

-          tidak mengharapkan terlalu dari anak.[20]

-          memberi dorongan dan nasehat kebijaksanaan pada anak.

Dengan demikian yang dihasilkan oleh anak-anak dari orang tuanya bukan hanya berupa harta benda semata tetapi juga nilai-nilai yang bermanfaat dalam kehidupan yang dinamis dan kreatif.

  1. E. Definisi Operasional

Untuk memberikan gambaran yang jelas sehubungan dengan penelitian ini serta menghindari salah tafsir agar permasalahan tidak kabur, maka dalam penelitian ini diberikan penegasan istilah untuk membatasi ruang lingkup objek penelitian, yaitu:

  1. Peran

Peran yaitu sesuatu yang jadi bagian atau memegang pimpinan yang terutama (dalam terjadinya sesuatu hal atau peristwa).[21] Yang dimaksudkan peran dalam penelitian ini adalah fungsi ataupun kegunaan dari perpustakaan.

  1. Orang Tua
  1. Meningkatkan

Menurut Poerwadarminta, “meningkatkan” berarti menaikkan (derajat, taraf dan sebagainya), mempertinggi, memperhebat (produksi dan sebagainya).[22]

  1. Prestasi

Prestasi merupakan bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapai. Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkahlaku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.[23] Prestasi  belajar dapat diartikan sebagai suatu hasil usaha yang telah dicapai dari latihan atau pengalaman yang ditunjukkan dengan nilai tes berdasarkan evaluasi.

Prestasi yang dimaksudkan adalah prestasi belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) siswa. Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dimaksudkan dalam penulisan ini adalah subyek pelajaran yang berisi materi/pengalaman tentang ajaran agama Islam yang pada umumnya telah tersusun secara sistematis dalam ilmu-ilmu ke Islalaman. Disini terdiri dari pelajaran Fiqh, Akidah akhlak, dan al-Qur’an Hadits.

Prestasi belajar ini ditunjukkan dengan adanya nilai mid semester dari para siswa yang dijadikan sebagai responden setelah dilaksanakannya evaluasi. Oleh karena itu dengan penelitian ini diharapkan dapat menggugah hati para pengelola sekolah ataupun pengelola perpustakaan untuk mengembangkan perpustakaan sekolahnya semaksimal mungkin.

  1. Anak

Anak adalah orang yang masih kecil atau belum dewasa. Dalam hal ini penulis membatasi anak adalah antara usia Sekolah Dasar yaitu 6 – 12 tahun.[24]

  1. Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang lebih khusus dan ditekankan pada pengembangan fitrah keberagamaan dan sumber daya insani lainnya agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengajarkan ajaran Islam.[25]

Jadi, yang dimaksud dengan judul “peran orang tua dalam meningkatkan perstasi belajar mata pelajaran PAI anak di SD Negeri 34/V Sungai Saren Kecamatan Bram Itam, dalam memberikan rangsangan terhadap siswa untuk giat belajar dan memperoleh prestasi yang baik.


[1] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 122

[2] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 46-47

[3] Sardiman AM., Interaksi dan Motivasi Belaajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali, 1992), hlm. 74-75

[4] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 83

[5] Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, t.th), hlm. 31

[6] Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bina Aksara, 1976), hlm. 71-72

[7] Edy Suhardono, Teori Peran (Konsep, Derivasi dan Implikasinya), PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 1994, hlm. 3.

[8] Peter Warsley et.al (Alih Bahasa Hartono Hadi Kusumo), Pengantar Sosiologi Sebuah Pembanding, PT. Tiara Wacana, Yogyakarta: 1992, hlm. 25.

[9] Abu Ahmadi dkk, Psikologi Sosial, Rineka Cipta, Jakarta: 1991, hlm. 115

[10] Luqman Ali, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta: 1994, hlm. 751

[11] Thamrin Nasution dan Nurhalijah Nasution, Peranan Orang Tua Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, Kanisius, Yogyakarta: 1985, hlm. 1

[12] Depag RI., Ilmu Pendidikan Islam, Proyek Pemgbinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, Yogyakarta: 1982, hlm. 34

[13] Luqman Ali, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta: 1994, hlm. 706

[14] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: Al-Ma’arif, 1986), hlm.

[15] Lubis Salam, Keluarga Sakinah, (Surabaya: Terbit Terang, t.th), hlm. 76

[16] Lubis Salam, Keluarga Sakinah, (Surabaya: Terbit Terang, t.th), hlm. 79

[17] Ramayulis, dkk., pendidikan islam dalam rumah tangga, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), hlm. 5.

[18] Zakiah Daradjat, dkk, Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), hlm. 183.

[19] Lubis Salam, Keluarga Sakinah, (Surabaya: Terbit Terang, t.th), hlm. 80

[20] Lubis Salam, Keluarga Sakinah, (Surabaya: Terbit Terang, t.th), hlm. 80-81

[21] W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Eds. III , (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), cet. VIII, hlm. 782.

[22] Poewadarminta, WJS., Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hlm. 1078

[23] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Eds. III, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), cet. 5, hlm. 84.

[24] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999) hlm. 35-36

[25] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 103

untuk lebih lengkap Hubungai Admin.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di sekolah, anak didik belajar menurut gaya mereka masing-masing. Perilaku anak didik bermacam-macam dalam menerima pelajaran guru, seorang anak didik dengan tekun dan penuh konsentrasi menerima pelajaran dari guru dengan cara mendengarkan pelajaran guru atau mengerjakan tugas yang telah diberikan. Anak didik yang lain disela-sela penjelasan guru, mengambil kesempatan membicarakan hal-hal yang lain terlepas dari masalah pelajaran. Di waktu yang lain ada anak didik yang duduk melamun yang terlepas dari pengamatan guru.[1]

Ketiadaan minat suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab kenapa anak didik tidak bergeming untuk mencatat apa-apa yang telah di sampaikan oleh guru. Itulah sebagai pertanda bahwa anak didik tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Ketiadaan motivasi instrinsik ini merupakan masalah yang memerlukan bantuan yang tak bisa di tunda-tunda. Guru harus memberikan Suntikan dalam bentuk motivasi ekstrinsik. Sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.[2]

Selanjutnya yang perlu diselidiki apabila ada seorang anak didik tidak, misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan dalam kegiatan belajar, maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu biasanya bermacam-macam, mungkin ia tidak senang, mungkin sakit, lapar, ada problem pribadi dan lain-lain. Hal ini berarti pada diri anak didik tidak terjadi perubahan energi, tidak terangsang afeksinya untuk melakukan sesuatu karena tidak memiliki tujuan dan kebutuhan belajar. Keadaan semacam ini perlu dilakukan daya upaya yang dapat menemukan sebab musababnya dan kemudian mendorong seorang siswa itu mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata lain, siswa itu perlu diberikan rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya.[3]

Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, menggerakkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, sehingga semakin besar motivasinya, maka semakin besar kesuksesan belajarnya. Seseorang yang besar motivasinya akan giat berusaha, tampak gigih, tidak mau menyerah, giat membaca buku-buku untuk meningkatkan prestasinya. Sebaliknya seseorang yang motivasinya lemah tanpak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak menuju pada pelajaran, akibatnya banyak mengalami kesulitan belajar.[4]

Upaya peningkatan proses dan hasil belajar perlu diwujudkan agar diperoleh kualitas sumber daya manusia yang dapat menunjang pembangunan nasional, upaya tersebut menjadi tugas dan tanggung jawab semua tenaga kependidikan, walaupun demikian peranan guru sangat menentukan, sebab gurulah yang langsung dalam membina para siswa di sekolah melalui proses interaksi belajar mengajar sehingga guru berperan aktif dalam membimbing dan mengorganisir terhadap kondisi belajar anak.

Permasalahan yang sering kita jumpai dalam pengajaran khususnya pengajaran agama Islam adalah bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa secara baik sehingga diperoleh hasil yang efektif dan efisien, disamping masalah lainnya yang sering didapati adalah kurangnya perhatian guru agama terhadap variasi penggunaan metode mengajar dalam upaya peningkatan mutu pengajaran secara baik.[5]

Salah satu usaha untuk memberikan motivasi belajar anak adalah dengan menciptakan situasi dan kondisi yang sedemikian rupa agar anak lebih tertarik terhadap setiap pelajaran yang disampaikan oleh guru selanjutnya anak itu merasa butuh terhadap pelajaran yang disampaikan, dengan perkataan lain bahwa bagi anak sudah merupakan suatu kebutuhan dalam rangka mencapai cita-cita yang di harapkan.

Untuk dapat membuat anak dapat berminat dalam belajarnya, maka bagi seorang guru dapat memanfaatkan suatu media pendidikan yang telah ada yang di dalamnya terdapat alat peraga baik yang berupa visual atau media audio visual, dengan demikian materi pembelajaran yang di capai anak bersifat verbalistik. Hal ini sesuai dengan yang dikemukan S. Nasution bahwa pelajaran dapat berlangsung lancar bila ada minat antara lain dapat di bangkitkan dengan cara menggunakan berbagai macam bentuk mengajar seperti kerja kelompok, membaca, demonstrasi.[6]

Dengan demikian jelaslah bahwa dalam kegiatan proses belajar mengajar diperlukan adanya minat yang tinggi dan minat anak akan timbul apabila guru dapat memberikan motivasi terhadap anak dan berhasil tidaknya motivasi tersebut tergantung pada keterampilan guru dalam memanfaatkan media pendidikan yang ada.

Selanjutnya prestasi belajar siswa dapat dilihat dalam buku laporan atau raport siswa yang memuat berbagai nilai hasil belajar, termasuk berbagai catatan tentang diri siswa, berupa sikap, tingkah laku, kedisiplinan dan sebagainya. Dengan demikian buku raport sangatlah penting artinya bagi guru guna mengetahui keberhasilan suatu sistem belajar mengajar dan perbaikanperbaikan pada tahap berikutnya.

Peneliti memilih SD Negeri 34/V Sungai Saren sebagai objek penelitian ini karena menurut pengamatan pendahuluan peneliti bahwa kegiatan-kegiatan Keagamaan Islam di SD Negeri 34/V Sungai Saren cukup banyak antara lain; Penyelenggaraan Baca Tulis Al-Qur’an (BTA), Tilawah, Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), Tadabbur Alam, dan sebagainya. Di samping itu, letak lokasi SD Negeri 34/V Sungai Saren mudah dijangkau dari tempat kediaman peneliti, sehingga memungkinkan peneliti bisa lebih intensif dalam melakukan penelitian. Lagi pula peneliti pernah bertugas dalam Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SD Negeri 34/V Sungai Saren pada tanggal 1-23 Juni 2009. Di situlah peneliti dapat mengamati bagaimana Kegiatan Keagamaan Islam (Rohis) di SD Negeri 34/V Sungai Saren. Secara kebetulan guru pamong peneliti yaitu ibu Siamah, A.Md., merupakan pembimbing dari kegiatan keagamaan Islam di SD Negeri 34/V Sungai Saren pada saat itu. Hal inilah yang menjadi pertimbangan dalam memilih lokasi atau objek penelitian ini.

Adapun pentingnya masalah ini diteliti adalah karena sepanjang pengetahuan peneliti sangat penting diketahui dengan harapan dapat meningkatkan efektifitas kegiatan keagamaan Islam terhadap prestasi belajar pendidikan agama Islam anak di SD Negeri I Sungai Saren. Berdasarkan keterangan tersebut mendorong peneliti mengangkat tema ini dengan judul: Peran Orang Tua  Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak Pada Mata Pelajaran Pendidikan gama Islam di Sekolah Dasar Negeri 34/V Sungai Saren. Merujuk pada permasalahn tersebut di atas, tampaknya guru perlu memperhatikan kondisi ekstern dan intern siswa yang belajar. Sejalan dengan hal itu, maka dalam penelitian ini akan dipelajari pengertian peran orang tua dan pentingnya peranan orang tua, jenis dan sifat peran orang tua dalam peningkatan prestasi belajar dalam PAI.

B. Rumusan Masalah

Merujuk pada latar belakang masalah penulis mengemukakan permasalahan dalam skripsi sebagai berikut:

1. Bagaimanakah peran orang tua dalam meningkatkan prestasi anak pada mata pelajaran PAI di SD Negeri 34/V sungai Saren.

2. Apa kendalan dan permasalahan yang dihadapi guru dalam meningkatkan oprestasi belajar PAI anak di SD Negeri 34/V sungai Saren.

3. Apa usaha-usaha dalam mengatsi kendala dan permasalahan yang dihadapi.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Ingin mengetahui peran guru agama dalam meningkatkan prestasi anak pada mata pelajaran PAI di SD Negeri 34/V sungai Saren.

b. Ingin mengetahui kendalan dan permasalahan yang dihadapi guru dalam meningkatkan oprestasi belajar PAI anak di SD Negeri 34/V sungai Saren.

c. Ingin mengetahui usaha-usaha dalam mengatsi kendala dan permasalahan yang dihadapi.

2. Kegunaan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui peran guru agama dalam meningkatkan prestasi anak pada mata pelajaran PAI di SD Negeri 34/V sungai Saren.

b. Untuk mengetahui kendalan dan permasalahan yang dihadapi guru dalam meningkatkan oprestasi belajar PAI anak di SD Negeri 34/V sungai Saren.

c. Untuk mengetahui usaha-usaha dalam mengatsi kendala dan permasalahan yang dihadapi.

d. Untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar sarjana strata satu (S.34/V) dalam Ilmu Tarbiyah Jurusan Pendidikan Islam pda STAI An-Nadwah Kuala Tungkal.

D. Diskripsi Teori

1. Hakikat Peran Orang Tua

a. Pengertian Peran Orang Tua

Menurut Edy Suhardono makna dari kata peran adalah suatu penjelasan yang merujuk pada konotasi ilmu sosial, yang mengartikan peran sebagai suatu fungsi yang dibawakan seseorang ketika menduduki suatu karakterisasi (posisi) dalam struktur sosial.[7]

Menurut Peter Warsley et.al mengartikan peran sebagai seperangkat alat-alat yang telah dikembangkan oleh para sosiolog untuk menggarap hubungan-hubungan yang kompleks.[8]

Menurut Drs. H. Abu Ahmadi dkk, peran adalah suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu berdasarkan status dan fungsi sosialnya.[9]

Peran adalah perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat.[10]

Orang tua adalah orang yang bertanggung jawab dalam satu keluarga atau rumah tangga yang biasa disebut ibu/bapak.[11]

Orang tua yaitu orang-orang yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup anak.[12]

Orang tua yaitu orang yang dianggap tua (cerdik, pandai, ahli dan sebagainya)., orang-orang yang dihormati (disegani di kampung).[13]

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa peran orang tua merupakan suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap sebagai orang yang mempunyai tanggung jawab dalam satu keluarga, dalam hal ini khususnya peran terhadap anaknya dalam hal pendidikan, keteladanan, kreatif sehingga timbul dalam diri anak semangat hidup dalam pencapaian keselarasan hidup di dunia ini.

Dalam sebuah keluarga orang tua merupakan pendidik yang pertama dan utama. Keutamaan yang ada pada dirinya bukan saja karena sebagai petunjuk jalan dan bimbingan kepada anak tetapi juga karena mereka adalah contoh bagi anak-anaknya. Dengan demikian orang tua dituntut untuk mengarahkan, menuntut/membimbing anak karena anak pada kenyataannya bukanlah orang dewasa yang berbentuk kecil. Sehingga sebagai orang tua mempunyai kewajiban memelihara keselamatan kehidupan keluarga, baik moral maupun material.

Sebagaimana firman Allah surat At-Tahrim ayat 6 :

$pkš‰r¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[14]

Jadi lingkungan keluarga terutama orang tua berperan besar, karena merekalah yang langsung atau tidak langsung berhubungan dengan anak. Sehingga orang tua dapat didefinisikan segala hal ikhwal, ucapan maupun sikap yang patut ditiru dan dimiliki oleh seseorang yang bertanggung jawab pada kelangsungan hidup anak yang biasa disebut ibu/bapak.

b. Peran Orang Tua Terhadap Anak

Orang tua mempunyai kedudukan yang utama dalam sebuah keluarga karena dari keluarga itu orang tua sebagai pendidik yang pertama bagi anak-anaknya. Begitu juga dalam hal pengetahuan yang bersifat umum maupun khusus sangat diperhatikannya. Ini artinya dalam keluarga orang tua memberikan bekal pada anaknya itu secara global.

Peran orang tua akan sangat dipengaruhi oleh peran-perannya atau kesibukannya yang lain. Misalnya, seorang ibu yang disibukkan pekerjaannya akan berbeda dengan perannya ibu yang sepenuhnya konsentrasi dalam urusan rumah tangga. Bagaimanapun peran seseorang sebagai orang tua, ditentukan pula oleh kepribadiannya.

Secara umum orang tua mempunyai tiga peranan terhadap anak:

1) Merawat fisik anak, agar anak tumbuh kembang dengan sehat

2) Proses sosialisasi anak, agar anak belajar menyesuaikan diri terhadap lingkungannya (keluarga, masyarakat, kebudayaan)

3) Kesejahteraan psikologis dan emosional dari anak.[15]

Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini terlihat adanya orang tua yang terjadi begitu memperhatikan perannya masing-masing. dengan meningkatnya pendidikan dan perkembangan iptek membuka luas kesempatan bagi wanita untuk mendapatkan profesi seperti juga kaum lelaki. Sehingga banyak terbukti istri/ibu yang bekerja penuh di luar rumah. Ini berpengaruh terhadap peran-peran yang lain yang jelas bahwa jika peran dari salah seorang anggota keluarga dalam hal ini ayah/ibu berubah, maka akan berubah pula peran dari masing-masing.

Dengan perkataan lain, bagaimana pengaruh orang tua terhadap pembentukan perilaku anaknya, merupakan suatu yang sangat majemuk, tergantung dari bermacam-macam faktor, antara lain:

1) ciri-ciri orang tua:

- usia

- pendidikan

- taraf sosial-ekonomi

- kepribadian dan sebagainya

2) ciri-ciri anak

- penampilan fisik

- jenis kelamin

- kesehatan

- kepribadian dan lain sebagainya.[16]

Faktor-faktor ini akan mempunyai pengaruh terhadap sikap dan perilaku orang tua pada anaknya. dengan demikian sulit bagi orang tua untuk memperlakukan sama terhadap anaknya.

c. Fungsi orang tua terhadap anaknya

Keluarga merupakan unit masyarakat kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. tempat manusia mula-mula dididik. disitulah berkembangnya individu dan terbentuknya tahap-tahap awal pemasyarakatan. Sekurang-kurangnya ada lima fungsi keluarga, yang bila dilihat dari segi pendidikan akan sangat menentukan kehidupan seseorang:

1) Keluarga dibentuk untuk reproduksi, keturunan, ini merupakan tugas suci agama yang dibebankan kepada manusia-transmisi pertama melalui fisik.

2) perjalanan keluarga selanjutnya mengharuskan ia bertanggung jawab, dalam bentuk pemeliharaan yang harus diselenggarakan demi kesejahteraan keluarga, anak-anak perlu pakaian yang baik, kebersihan, permainan yang sehat, makanan yang bergizi.

3) lebih jauh keluarga berjalan mengharuskan ia menyelenggarakan sosialisasi, memberikan arah pendidikan, pengisian jiwa yang baik danbimbingan kejiwaan.

4) d. referensi adalah fungsi selanjutnya, karena hidup adalah “just a matter of choice” maka orang tua harus mampu memberikan referensi yang terbaik untuk anggota keluarga, terutama anak-anaknya. freferensi adalah tindak lanjut dari sosialisasi orang memberikan frefensi jalan mana yang harus ditempuh dalam kehidupan anak.

5) pewarisan nilai kemanusiaan, yang minimal dikemudian hari dapat menciptakan manusia damai, anak shaleh yang suka mendoakan orang tua secara teratur, yang mengembangkan kesejahteraan sosial dan ekonomi umat manusia yang mampu menjaga dan melaksanakan hak azasi kemanusiaan yang adil dan beradab dan yang mampu menjaga kualitas dan moralitas lingkungan hidup.[17]

Fungsi orang tua menurut prof. dr. zakiah daradjat dkk, adalah:

1) pendidik yang harus memberikan pengetahuan, sikap dan ketrampilan terhadap anggota keluarga yang lain di dalam kehidupannya,

2) pemimpin keluarga yang harus mengatur kehidupan anggota,

3) contoh yang merupakan tipe ideal di dalam kehidupan dunia, dan

4) penanggung jawab di dalam kehidupan baik yang bersifat fisik dan materiel maupun mental spiritual keseluruhan anggota keluarga.[18]

Secara umum dapat dikatakan, bahwa bagaimana pengaruh orang tua terhadap perkembangan perilaku kepribadian anaknya ditentukan oleh sikap, perilaku dan kepribadian orang tua.[19] sehingga fungsi orang tua sangat dominan pada diri anak. diantaranya sebagai pendorong kemajuan. contoh perilaku orang tua yang menerima anak:

- menunjukkan perhatian dan kasih sayang

- berperan serta dalam kegiatan anak

- perhatian terhadap prestasi sekolah anak

- percaya pada anak

- tidak mengharapkan terlalu dari anak.[20]

- memberi dorongan dan nasehat kebijaksanaan pada anak.

Dengan demikian yang dihasilkan oleh anak-anak dari orang tuanya bukan hanya berupa harta benda semata tetapi juga nilai-nilai yang bermanfaat dalam kehidupan yang dinamis dan kreatif.

E. Definisi Operasional

Untuk memberikan gambaran yang jelas sehubungan dengan penelitian ini serta menghindari salah tafsir agar permasalahan tidak kabur, maka dalam penelitian ini diberikan penegasan istilah untuk membatasi ruang lingkup objek penelitian, yaitu:

1. Peran

Peran yaitu sesuatu yang jadi bagian atau memegang pimpinan yang terutama (dalam terjadinya sesuatu hal atau peristwa).[21] Yang dimaksudkan peran dalam penelitian ini adalah fungsi ataupun kegunaan dari perpustakaan.

2. Orang Tua

3. Meningkatkan

Menurut Poerwadarminta, “meningkatkan” berarti menaikkan (derajat, taraf dan sebagainya), mempertinggi, memperhebat (produksi dan sebagainya).[22]

4. Prestasi

Prestasi merupakan bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapai. Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkahlaku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.[23] Prestasi belajar dapat diartikan sebagai suatu hasil usaha yang telah dicapai dari latihan atau pengalaman yang ditunjukkan dengan nilai tes berdasarkan evaluasi.

Prestasi yang dimaksudkan adalah prestasi belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) siswa. Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dimaksudkan dalam penulisan ini adalah subyek pelajaran yang berisi materi/pengalaman tentang ajaran agama Islam yang pada umumnya telah tersusun secara sistematis dalam ilmu-ilmu ke Islalaman. Disini terdiri dari pelajaran Fiqh, Akidah akhlak, dan al-Qur’an Hadits.

Prestasi belajar ini ditunjukkan dengan adanya nilai mid semester dari para siswa yang dijadikan sebagai responden setelah dilaksanakannya evaluasi. Oleh karena itu dengan penelitian ini diharapkan dapat menggugah hati para pengelola sekolah ataupun pengelola perpustakaan untuk mengembangkan perpustakaan sekolahnya semaksimal mungkin.

5. Anak

Anak adalah orang yang masih kecil atau belum dewasa. Dalam hal ini penulis membatasi anak adalah antara usia Sekolah Dasar yaitu 6 – 12 tahun.[24]

6. Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang lebih khusus dan ditekankan pada pengembangan fitrah keberagamaan dan sumber daya insani lainnya agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengajarkan ajaran Islam.[25]

Jadi, yang dimaksud dengan judul “peran orang tua dalam meningkatkan perstasi belajar mata pelajaran PAI anak di SD Negeri 34/V Sungai Saren Kecamatan Bram Itam, dalam memberikan rangsangan terhadap siswa untuk giat belajar dan memperoleh prestasi yang baik.


[1] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 122

[2] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 46-47

[3] Sardiman AM., Interaksi dan Motivasi Belaajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali, 1992), hlm. 74-75

[4] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 83

[5] Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, t.th), hlm. 31

[6] Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bina Aksara, 1976), hlm. 71-72

[7] Edy Suhardono, Teori Peran (Konsep, Derivasi dan Implikasinya), PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 1994, hlm. 3.

[8] Peter Warsley et.al (Alih Bahasa Hartono Hadi Kusumo), Pengantar Sosiologi Sebuah Pembanding, PT. Tiara Wacana, Yogyakarta: 1992, hlm. 25.

[9] Abu Ahmadi dkk, Psikologi Sosial, Rineka Cipta, Jakarta: 1991, hlm. 115

[10] Luqman Ali, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta: 1994, hlm. 751

[11] Thamrin Nasution dan Nurhalijah Nasution, Peranan Orang Tua Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, Kanisius, Yogyakarta: 1985, hlm. 1

[12] Depag RI., Ilmu Pendidikan Islam, Proyek Pemgbinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, Yogyakarta: 1982, hlm. 34

[13] Luqman Ali, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta: 1994, hlm. 706

[14] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: Al-Ma’arif, 1986), hlm.

[15] Lubis Salam, Keluarga Sakinah, (Surabaya: Terbit Terang, t.th), hlm. 76

[16] Lubis Salam, Keluarga Sakinah, (Surabaya: Terbit Terang, t.th), hlm. 79

[17] Ramayulis, dkk., pendidikan islam dalam rumah tangga, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), hlm. 5.

[18] Zakiah Daradjat, dkk, Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), hlm. 183.

[19] Lubis Salam, Keluarga Sakinah, (Surabaya: Terbit Terang, t.th), hlm. 80

[20] Lubis Salam, Keluarga Sakinah, (Surabaya: Terbit Terang, t.th), hlm. 80-81

[21] W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Eds. III , (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), cet. VIII, hlm. 782.

[22] Poewadarminta, WJS., Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hlm. 1078

[23] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Eds. III, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), cet. 5, hlm. 84.

[24] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999) hlm. 35-36

[25] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 103

2 thoughts on “Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak Pada MP PAI di Sekolah Dasar Negeri 34/V Sungai Saren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s