Tes Baca Alquran Ala Juz ‘Amma

Tes Baca Alquran Ala Juz ‘Amma

Oleh: Mhd. Effendi, S.Sos.I

Lantaran bersifat tertutup, terpaksalah saya menerawang terhadap kegiatan uji mampu baca Alquran bagi para caleg Aceh. Kabarnya sepuluh tim akan melaksanakan tes tersebut di dua tempat, yang masih sekitar gedung utama kantor Komisi Independen Pemilihan ( KIP) Aceh.

Seandainya bersifat terbuka, serta dilaksanakan di Masjid atau Meunasah; tentu saya dan masyarakat bisa secara beramai-ramai memeriahkannya. Paling kurang, bagi kami pencoblos gambar Pemilu; kegiatan itu bisa memperoleh pahala dan mempercepat waktu buka puasa. Tapi apa hendak dikata, KIP telah memutuskan acara tes baca Alquran itu dilakukan secara tertutup, maka tertutuplah kesempatan saya serta masyarakat menyaksikan calon wakil-wakil kami diuji kemampuan baca Alquran mereka.

Mau secara diam-diam datang mengintip, tentu dilarang!. Maka baiklah saya terawang dari jarak jauh saja.

Sebenarnya banyak manfaat yang bisa diperoleh jika kegiatan itu dilaksanakan secara terbuka., antara lain : Pertama, publik bisa mengetahui secara gamblang kemampuan baca Alquran para calon anggota Dewan. Kedua, berbagai dugaan negatif terhadap Dewan juri akan terhindarkan serta hilangnya rasa curiga dan fitnah dikemudian hari.. Ketiga, akan menumbuhkan sikap positif masyarakat terhadap kegiatan berpolitik yang sering diisukan kotor. Keempat, dapat memberikan sinyal positif bagi anak-anak dan orangtua mereka agar lebih rajin belajar/ mengajari baca Alquran.

Kelima, mampu menimbulkan semangat belajar membaca Alquran bagi mereka yang sedang berancang-ancang memasuki dunia politik di Aceh. Keenam, pihak partai akan lebih hati-hati dalam menyeleksi calon anggota Dewan yang mewakili partainya. Ketujuh, sebagai salah satu arena mempertaruhkan citra partai dihadapan publik calon pemilih.

Menurut berita Harian Serambi, 29 Agustus 2008 halaman 17 menyebutkan, KIP Aceh telah mengeluarkan Keputusan Nomor 2/2008 tentang Petunjuk Teknis Uji Kemampuan Baca Alquran untuk bakal calon anggota DPRA/DPRK. Isinya antara lain, bagi setiap calon yang mengikuti tes akan dinilai dari tiga segi standar penilaian. Yakni, berdasarkan Makhrijul Huruf dengan poin 40, ketepatan bacaan baris 40 dan adab 20 poin. Standar kelulusannya, setiap calon minimal harus mendapatkan nilai 50 dan kalau hanya mendapat 49 itu dinyatakan tidak lulus.

Alhamdulillah, ternyata syarat kelulusan uji mampu baca Alquran yang dibebankan kepada para calon wakil rakyat Aceh relatif sederhana. Hal ini, menurut pengertian saya yang bukan seorang qari baca Alquran. Dengan memperoleh nilai 20 segi Makhrijul Huruf , nilai 20 ketepatan bacaan baris dan nilai 10 segi adab/sopan; maka luluslah tes baca Alquran bagi calon anggota Dewan yang terhormat itu. Dan bila tidak ditetapkan mesti kitab Alquran 30 Juz, para peserta ujian juga dapat meminta kepada tim penguji; agar bahan ujian cukup diambil dari kitab pejaran Alquran Juz ‘Amma saja. Sebab, toh di dalamnya juga terkandung surat-surat pendek dari Alquran.

Keputusan KIP Aceh tentang syarat-syarat yang demikian tentu merupakan suatu ketetapan yang mengikat semua pihak terkait, namun untuk Pemilu lima tahun mendatang tahun 2014 (?)., saya mengajak KIP Aceh agar menambah sedikit lagi syarat kelulusan baca Alquran, yakni dengan tajwid, walaupun dalam standar sederhana pula.

Memang para calon anggota DPRA-DPRK bukan dibekali untuk maju ke ajang musabaqah tilawatil Alquran, namun paling kurang sebagai wakil rakyat Aceh yang Islami; mereka harus mampu dan pantas menjadi imam shalat. Toh, anggota Dewan itu, ^kan sering studi banding ke luar daerah; bahkan ke luar negeri, dimana diluar Aceh setiap orang Aceh dipandang orang luar pasti ‘alim agama Islam. Pada setiap kesempatan shalat berjamaah; bila ada, pasti orang Aceh yang ditunjuk oleh jamaah shalat menjadi imam sembahyang. Bila anggota Dewan tak mampu menjadi imam shalat yang memadai saat itui, tentu merongrong citra daerah Aceh pula.

Dalam kehidupan bermasyarakat orang Aceh tempo dulu, memang sudah terpola batas minimal kemampuan seseorang membaca Alquran, yakni jeuet taba bak khanduri ( dapat ikut serta pada acara kenduri). Sebab, dalam tradisi kenduri zaman dulu, kegiatan pokok para undangan setelah disuguhi makan nasi adalah membaca Alquran secara bergilir sepanjang satu juz lebih. Kini, beuet meucok-cok ayat (ngaji bergiliran) itu telah diganti dengan membaca Qulhu/samadiyah selama kurang setengah jam. Perlu ditambahkan, bahwa pengajian bergiliran di rumah tetangga/ keluarga yang jauh pada malam hari itu diikuti hampir semua lelaki yang hadir termasuk remaja. Hanya sebagian kecil yang tidak menyertainya, baik karena sebagai tuan rumah atau memang betul-betul tidak mampu membaca Alquran. Bagi mereka, sebagiannya akan bertugas mengupas tebu di belakang pinti ( sek teubee dilikot pinto). Mampunya hampir semua hadirin ikut beuet meucok-cok ayat itu, menunjukkan syarat membaca Alquran di setiap arena kenduri tidaklah berat alias sederhana. Mungkin kalau pada standar lomba musabaqah sekarang adalah lomba jenis Tartil, yang disyaratkan mampu membaca jelas dan terang, dan bukan jenis Tilawah, yang menggunakan ukuran Tajwid kelas tinggi. Kiranya, pola jeuet beuet bak khanduri ( dapat membaca Alquran pada acara kenduri); patut dijadikan standar lulus baca Alquran bagi calon anggota legislatif Aceh di masa-masa akan datang!.

Dalam tradisi belajar mengaji (beuet Alquran) masyarakat Aceh, yang menggunakan sistem Qa’idah Baghdadiyah kitab/Quran Juz ‘Amma, pengenalan Makhrijul Huruf bukanlah yang diutamakan. Makhrijul Huruf baru diterapkan ketika belajar Quruan rayek(Alquran 30 Juz). Karena itu tidaklah heran bila di tempat-tempat pengajian (bale seumeubeuet) tempo dulu, kita sering mendengar anak-anak membaca anakom, ainakom, inakom, eeinakom, unakom dan seterusnya, yakni yang seharusnya berbunyi kum, namun dibaca kom, dan yang bunyi au dibaca eei. Hal demikian terjadi di bale-bale seumeubeuet rakyat yang alakadarnya, yang dulu dapat dijumpai hampir di setiap kampung

Target pertama belajar Alquran masa lalu adalah mengenal huruf hijaiyah. Setelah kenduri ketan (buleukat ngon tumpoe), yang dibawa murid baru disantap bersama-sama, maka Teungku langsung mengajar mengenal huruf Arab. Sejak itu terdengarlah: alehba, ta, tsa, jim ha…sampai ya; dan Wassalamu!!!; selama berhari-hari. Bila belum mahir betul, sang Teungku amat pelit untuk mengajar/pinah ke bagian lanjutan.

Setelah benar-benar semua huruf dikenal/terhafal; barulah diperkenalkan baris. Itu pun baru baris di atas/baris fatah, yaitu : aleh ateuh bareh a, ba ateuh bareh ba, ta ateuh bareh ta…sampai ya ateuh bareh ya, dan Wassalamu!. Pada pinah/lanjutan ke tiga baru diperkenalkan kepada tiga bentuk baris, yakni fatah, kasrah dan dlammah. Barulah anak-anak membaca : aleh ateuh bareh a-aleh diyub bareh i-aleh kiwieng bareh u, maka saat diulang berbunyi a, i, u. Buat ke tiga kali pinah/sambung itu mungkin telah menghabiskan waktu lebih sebulan. Namun tahap yang paling menggembirakan bagi setiap anak yang belajar Juz ‘Amma (beuet alehba) adalah ketika sampai pada bacaan: abu tautsi jaiha khudeedi. Disaat sempat membaca bagian itu, seolah-olah akan mudahlah menamatkan Quran Alehba itu. Bagaimana dengan anak-anak yang belajar dengan Metode Iqrak sekarang?, Saya kurang tahu!. Saya kira, hampir semua calon anggota DPRA-DPRK ketika dulu belajar membaca Alquran adalah dengan metode/kaedah Baghdadiyah atau Juz ‘Amma alias Qur’an Alehba itu.

Mengenai Makhrijul Huruf (Aceh : makhroj harah ) hanya baru dibayang-bayangi oleh Teungku di tahap belajar Juz ‘Amma itu. “Bek kakheun ta; meutapi tha!”, seru Teungku membetulkan bacaan anak-anak yang salah makhraj harahnya. Dalam hal ini, pembetulan itu hanya sekali-sekali saja.

Namun ada hal lain yang paling berkesan bagi anak-anak mengenai Makhrijul Huruf itu. Dalam sebuah kitab/Qur’an Alehba hanya terdapat tiga buah gambar, yaitu gambar masjid Nabawi, masjidilharam dan gambar makarong. Karena diberi nama makarong – nama gabungan malaikat mungkar- wa nakir yang tugasnya bersoal jawab dalam kubur; dalam bahasa Aceh -;maka sebagian anak-anak tempo dulu enggan membuka halaman yang memuat gambar itu. Barulah ketika anakanak belajar tajwid pada Qur’an rayek (Alquran 30 Juz, barulah diketahui, bahwa gambar makarong adalah gambar untuk mengetahui tempat keluarnya huruf hijaiyah dari dalam mulut/tenggorokan. Rupanya kata makhraj dipelesetkan menjadi makarong.

Betapa tidak menakutkan anak-anak!. Warna gambar hitam pekat, bibir tebal hitam, lidah hitam, kerongkongan pun hitam; hanya gigi-gigi besar yang putih. Wah, sereemmm!!!.

Dengan harapan, agar tidak tersandung dengan makarong, saya mengucapkan selamat kepada para calon caleg/DPRA-DPRK Aceh. Mudah-mudahan mereka semua lulus dalam tes mampu membaca Alquran mulia!. Semoga menjadi anggota Dewan yang betul-betul terhormat, yakni sesuai janji dan amanah yang diemban. Mendudukkan rakyat di talak bukan di tapak!!

diambil dari : http://tambeh.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s