AGAMA MASYARAKAT NELAYAN

AGAMA MASYARAKAT NELAYAN
“Untuk Memahami Kehidupan Beragama Masyarakat Nelayan
di Tanjung Jabung Barat
Eds: Muhammad Efendi

Kutipan Dari Mudjahirin Thohir[1]
“Untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur”


1. Muqodimah
Melakukan penelitian sosial keagamaan masyarakat nelayan merupakan serangkaian aktivitas intelektual dan fisikal, yang bergerak dan digerakkan oleh kebutuhan untuk memahami dan mengerti berbagai masalah (realitas) kehidupan beragama di kalangan mastyarakat nelayan secara ilmiah. Dengan ditemukan pemahaman dan pengertian atas realitas dimaksud, memungkinkan pihak-pihak terkait bisa melakukan serangkaian tindakan seperti pemberdayaan. Dengan demikian, penelitian (seyogyanya), memang tidak sekedar untuk memenuhi rasa ingin tahu (intellectual exercise) tetapi juga karena dorongan untuk melakukan perbaikan dan pemberdayaan masyarakat yang dipelajari.
Rasa ingin tahu terhadap realitas, didasarkan atas kaidah ilmiah (secara teoritik dan metodologik) sehingga temuan itu sendiri menjadi bermakna.
Teori sebagai serangkaian penjelasan logik, berfungsi untuk mengantarkan peneliti mengenali “lebih dekat” kemungkinan penjelasan berbagai gejala-gejala (realitas yang ingin dipelajari). Lewat teori, memungkinkan kita menyusun hipotesis[2]. Lewat hipotesis, memungkinkan peneliti lebih bisa mengfokuskan kebutuhan akan ‘informasi-informasi apa saja yang dianggap penting[3] dan karena itu harus dikumpulkan’. Bagaimana proses untuk mengumpulkan informasi? Di sinilah metodologi mengambil peran.
Metodologi berurusan kepada prosedur mengumpulkan informasi, menganalisis informasi yang sudah terkumpulkan, dan menyajikan hasil analisis dalam bentuk laporan penelitian, menurut format dan isi yang disepakati.
Prosedur pengumpulan informasi itu, meliputi: (1) Masalah apa yang akan dipelajari. Dari perspektif apa masalah itu dilihat, dan bagaimana memerinci masalah tersebut ke dalam sejumlah pertanyaan; (2) Informasi (data)[4] apa saja yang dibutuhkan untuk bisa menjawab masalah yang diajukan[5], sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai; (3) Dengan cara bagaimana informasi-informasi itu didapatkan (misalnya, apakah dengan: wawancara[6], pengamatan, buku dokumen, dsb); (4) Bagaimana memahami (menganalisis) informasi-informasi itu sehingga diperoleh makna atau pengertian, dan (5) Bagaimana menyusun dalam bentuk laporan.
Selintas, pekerjaan (baca: meneliti) sebagaimana prosedur di atas, mudah diucapkan, tetapi belum tentu mudah untuk dilaksanakan. Mengapa?
Berikut akan disajikan beberapa ulasan, dan ulasan dimaksud dikaitkan kepada rancangan penelitian “Realitas Keberagamaan Masyarakat Nelayan”.
1. Realitas Religiositas
Istilah “realitas” — dalam perdebatan filsafat ilmu — terdapat setidaknya dua aliran, yaitu materialisme dan idealisme. Yang pertama, realitas adalah segala sesuatu yang dapat dilihat dan dikenali, yang terwujud sebagai ‘materi’. Sedang yang kedua (idealisme) melihat esensi realitas ialah ide, makna, atau gagasan yang tersembunyi di balik materi itu sendiri.
Saya sendiri melihat bahwa “sesuatu yang dapat dikenali, dilihat (tangible), atau dapat diamati, adalah realitas empirik. Dalam kehidupan riil, realitas empirik itu bisa berupa apa saja, misalnya upacara sedekah laut bagi kaum nelayan.
Realitas empirik seperti ini bisa difoto atau divideokan. Jika hasil dari perekeman itu dideskripsikan dalam bentuk bahasa (tulis) bisa berpuluh halaman. Realitas itu adalah “the text”. Perlu diketahui bahwa teks yang berwujud peristiwa dan deskripsi atas peristiwa tadi, belum memberi pemahaman apa-apa kecuali pelukisan atas teks itu sendiri. Karena itu – untuk memulai memahami the text, harus dicari pola-polanya, makna-maknanya, dan ide-ide yang tersembunyi di balik the text tadi. Dengan kata lain, ekspresi atau perwujudan dari “sedekah laut” tadi, banyak hal bisa kita amati, misalnya adanya para pelaku (partisipan), berbagai bersajian, prosesi upacara (dalam ruang dan waktu dan tata urutan tindakan ritual). Proses pencarian makna di balik upacara sedekah laut itu, dikenal dengan istilah memahami “beyond the text”, dan kemudian “off the text”.
Bagaimana mencari atau merebut makna di balik text? Pada tataran awal (pemahaman sementara) kita bisa dibantu oleh pengalaman atau dari teori atau dari referensi, tetapi untuk selanjutnya, harus dicari tahu dari pelaku atau masyarakat pemilik kebudayaan dimaksud. Dalam bahasa teknis, cara pandang menurut kacamata pelaku (insider looking) ini dikenal dengan peprspektif emik.
Beyond the text adalah pola-pola yang diwujudkan ke dalam simbol-simbol beserta dengan makna-makna yang menyelinap dibalik simbol dan berbagai elemen yang menyertainya. Sedang off the text ialah ide-ide semacam logika atau argumen-argumen yang mendasari dan yang bersumber pada sistem-sistem nilai maupun sistem-sistem keyakinan para partisipannya. Karena itu, off the text adalah worldview, atau cultural values atau gagasan inti yang mengantarai tindakan .
Ini artinya, realitas itu sendiri memiliki lapisan-lapisan – yang dalam kehidupan sosial – berjalan secara koherensial, yakni saling keterkaitan dan sangat rasional. Jika digambarkan, lapisan-lapisan realitas (sosial) itu sebagai berikut.

Realitas empirik (lapis pertama; permukaan) adalah obyek yang kita amati (dalam hal ini, [misalnya] sedekah laut). Jika kita amati lebih mendalam (dengan menggunakan kaca mata teoritik), kita akan menemukan pola-pola atau serangkaian segment yang berstruktur, yang hampir semuanya diujudkan dalam bentuk simbol-simbol atau elemen-elemen simbolik. Karena itu, pada lapis kedua ini saya sebut sebagai “realitas simbolik” (lapis kedua)
Dalam realitas simbolik itu, kita temukan pola-pola “tindakan” yang relatif menetap dan memiliki keteraturan. Misalnya, soal partisipan upacara. Siapa saja mereka (jenis kelamin, status pekerjaan, pakaian, formasi, dsb) yang (boleh) menjadi partisipan. Partisipan itu sendiri terstruktur lagi menjadi siapa yang menjadi pemimpin upacara, dan siapa yang menjadi peserta (partisipan) biasa. Hak-hak dan kewajiban apa yang harus dipenuhi oleh masing-masingnya. Dari sesaji seperti barang, makanan, dan benda-benda yang dipersembahkan. Misalnya, sesajian makanan itu mengapa berupa nasi tumpung, ayam ingkung, makanan-makanan kecil warna-warni dsb. Dari segi prosesi, mengapa upacara atau ritual itu diselenggaran di suatu tempat dan waktu tertentu dan diatur dengan model-model tertentu. Di sinilah fungsi simbol, yakni ia mengekspresikan sekaligus menyembunyikan. Mengekspresikan perwujudan tanda-tanda (simbolik), sekaligus menyembunyikan sesuatu (kemauan, harapan, dsb). Karena itu, lapis ketiga ialah realitas makna (lapis ketiga). Artinya, simbol-simbol itu dipilih sedemikian rupa karena “ia bermakna” atau diberi makna oleh pelakunya.
Bagaimana partisipan (nelayan; peserta upacara) itu memberi makna terhadap benda-benda maupun tindakan-tindakan simbolik tadi? Peneliti kualitatif harus bisa menyelam ke lapisan berikutnya, yaitu realitas ide (lapis keempat).
Realitas ide adalah kumpulan pengetahuan dan pengalaman-pengalaman (langsung atau tidak langsung) yang ditarik dari dunia kehidupan yang dihadapi sehari-hari (misalnya: nelayan yang harus mencari penghasilan, mencari ikan di laut, memperoleh ikan melimpah atau sebaliknya, dengan selamat atau sebaliknya, dst). Belajar di balik pengalaman hidup keseharian itulah, mereka lantas membangun atau mewarisi bangunan pengetahuan (local knowledge) dan strategy (methode) dari generasi sebelumnya. Bangunan pengetahuan itu dikaitkan dengan pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan di luarnya. Misalnya, jika semua tata ruang/bangunan ada pemilik/penguasanya, maka orang tidak boleh memasuki rumah seseorang tanpa ijin terlebih dahulu kepada pemilik/penguasanya. Begitu pula laut sebagai tata ruang, ia juga dikuasai oleh “penguasa” tertentu, misalnya “Ratu Kidul” (untuk laut selatan), atau “Dewi Lanjar” (untuk laut utara) atau Nabi Khidlir, atau semuanya itu, dsb. Kalau nelayan akan melaut, maka ia juga harus meminta ijin “penguasanya” itu. Kebutuhan untuk memperoleh “ijin” (atau restu) berarti nelayan harus membangun relasi. Dalam bangunan relasional itu, di sana ada etika yang bergerak pada konsep hubungan asimetrikal (ketidaksejajaran) yaitu “penguasa/pemilik/penjaga” (Ratu Kidul, Dewi Lanjar, atau Nabi Khidzir, dsb) dengan nelayan, sehingga terbentuk hubungan: atas – bawah. Di sinilah lalu, hadir dalam emosi mereka (nelayan) untuk melakukan persembahan. Ritual laut pada dasarnya adalah ekspresi persembahan itu sendiri. Mengapa perlu melakukan persembahan? Karena ada motif-motif, dorongan-dorongan, harapan-harapan, dan sekaligus kekhawatiran. Ada perasaan tidak berdaya atau tidak bisa memperoleh (hasil maksimal) yang diinginkan ketika tidak melakukan tawassul seperti itu.
Dalam “persembahan,” tentu di sana ada sejumlah pertanyaan yang harus dijawab, yaitu: jenis-jenis sesuatu yang dianggap cocok untuk dipersembahkan kepada pihak-pihak yang akan menerima persembahan (barang-barang sesaji), dan dengan cara bagaimana persembahan itu dilakukan (proses ritual: ucapan-ucapan, tindakan-tindakan, dsb) sehingga tujuan (harapan, keinginan: selamat, dan hasil melimpah didapat, rintangan dan musibah terhindarkan) dapat tercapai. Hubungan resiprositas (realitas ide) inilah yang kemudian dijabarkan kedalam pengertian-pengertian (reasoning) yang bisa dimengerti (realitas makna) yang tersembunyi di balik simbol-simbol (realitas simbolik) sehingga di permukaan sebagaimana yang kita saksikan dalam upacara atau ritual sedekah laut tersebut.
Jika keseluruhan dari ide (gagasan, keinginan, harapan) tadi telah dijalankan, maka untuk selanjutnya, berpasrah diri dalam menjalankan kehidupan (mencari rizki di laut) dengan tenang. Di sinilah worldview di balik upacara sedekah laut. Dengan kata lain, “tugas manusia (nelayan) adalah berikhtiar, (tugas) Tuhan menentukan”.
Bagaimana dengan realitas keberagamaan? Glock dan Stark (dalam Robinshon dan Shaver (1973: 642-51) menunjukkan empat dimensi yaitu: belief, practice, experience, dan knowledge. Tetapi keempat dimensi ini dipakai untuk mengukur tingkat-tingkat penghayatan keagamaan. Lalu bagaimana dengan arah yang ingin dituju di dalam penelitian “Kehidupan Beragama Masyarakat Nelayan”, apakah akan mengukur keberagamaan mereka dengan menggunakan empat dimensi tersebut?
Berdasarkan draft proposal – dalam tujuan penelitian – adalah ingin mengetahui BAGAIMANA (pola pemahaman dan perilaku keberagamaan). Jika saya kembali kepada lima lapis realitas (yang saya tawarkan), penelitian dengan pertanyaan inti BAGAIMANA baru bisa menjangkau (maksimal) tiga lapis realitas, yaitu: empirik, simbolik, dan makna. Karena itu, ada baiknya penelitian ini lebih dipertajam ke dalam proses memahami realitas lapis keempat (realitas ide) dan realitas nilai (worldview) yakni lapis kelima, dengan cara mengajukan kata tanya MENGAPA?
Untuk memperdalam kajian kehidupan beragama masyarakat nelayan dengan pendekatan kualitatif, saya sarankan untuk sudi membaca buku karya John W. Creswell (1994) yang berjudul: Research Design – Qualitative & Quantitative Approaches, dan sepasang buku karrya James P. Spradley (1980) yang berjudul Participant Observation dan Ethnographic Interview.
1. Masyarakat Pesisir dan Kaum Nelayan
Dalam kaitannya dengan geografi (tata-ruang; kewilayahan), konsep pesisir sering ditukarartikan dengan pantai (coastal area) yakni wilayah yang dikategorikan sebagai berdekatan dengan laut. Sedang dalam arti kebudayaan, saya lebih suka menggunakan istilah pesisir (bukan pantai) sehingga dikenal budaya atau kebudayaan pesisir. Kalau ditarik ke wilayah budaya (culture area) Jawa, maka istilah budaya pesisir merupakan sub-budaya Jawa. Dalam konteks kebudayaan (Jawa) itu pula, masyarakat – dalam perbincangan kesejarahan era kraton, dikenal adanya masyarakat dan budaya negarigung, masyarakat dan budaya mancanegari, serta masyarakat dan budaya pesisiran.
Jika kraton (Yogya dan Solo) ditempatkan sebagai “pusat bagi perkembangan kebudayaan Jawa” (waktu itu dan mungkin sampai sekarang), maka pesisir ditempatkan sebagai peripherialnya. Sebagai wilayah (budaya) peripherial, maka sudah barang tentu ia memiliki banyak perbedaan dengan budaya negarigung (lihat buku karya Clifford Geertz, Abangan, Santri, dan Priyayi).
Dari kajian Geertz dan penulis-penulis lain yang mengikutinya, masyarakat pesisir mempunyai ciri-ciri yang menonjol. Dari segi ideologi keagamaan, mayoritas Islam “santri”, dari segi etiket kebahasaan, relatif kasar, dalam berkomunikasi cenderung straight forward (langsung pada sasaran), dan dari segi orientasi kerja, lebih menonjol pada pilihan menjadi “wira-usaha” (bukan priyayi). Itu pula sebabnya, masyarakat yang hidup di sekitar laut selatan – dalam pembicaraan kebudayaan (Jawa) – tidak dikategorikan sebagai beragama Islam “santri”, karena agama yang dipeluk dan dihayati masyarakat di bibir pantai laut selatan, lebih cenderung mirip dengan masyarakat mancanegari dan negarigung, yakni sinkretis.
Nelayan merupakan kelompok sosial, yang umumnya tinggal dan hidup di lingkungan pantai (baik utara maupun selatan). Jika mereka dilihat dalam lingkup kehidupan yang lebih luas, maka nelayan yang hidup dan tinggal di sekitar pantai utara Jawa bersama masyarakat lainnya, dapat diduga hidup dalam lingkungan santri (atau budaya pesisir), atau setidak-tidaknya terbiasa dalam irama kehidupan kaum santri. Sedang nelayan di pantai selatan, keberagamaannya cenderung mengikuti pula masyarakat mancanegara yang sinkretik itu. Dalam konteks ini, memang perlu dipertanyakan secara amat kritis, yakni: “Apakah kaum nelayan itu hidup secara menetap dalam kawasan nelayan” secara tersendiri/terpisah dengan masyarakat lain yang non-nelayan?; atau mereka hanya berbeda dalam hal pekerjaan, tetapi tidak (berbeda) dalam hal pemukiman? Jika memang dua-duanya ada, maka adalah sangat menarik kalau cakupan penelitian ini juga menjangkau keduanya. Untuk itu, cakupannya sasaran masyarakat nelayan yang dipelajari bisa dibuat kluster sebagai berikut.
Masyarakat Daerah Kawasan laut Lingkungan sosial
Nelayan Jateng Utara Inklusif
Eksklusif Tetap
Sementara
Selatan Inklusif
Eksklusif Tetap
Sementara
Jatim Utara Inklusif
Eksklusif Tetap
Sementara
Selatan Inklusif
Eksklusif Tetap
Sementara
Berdasarkan pada kluster di atas, maka masyarakat nelayan (yang mau dipelajari), dilihat dari daerah, kawasan laut, dan lingkungan sosial pemukiman, tidaklah monolitik tetapi pluralitik, yakni menjadi dua belas segmen, yang dapat dikategorikan berdasarkan pada lingkungan sosialnya ke dalam tiga ciri yaitu (1) kaum nelayan yang tinggal dengan warga masyarakat lain secara inklusif, (2) kaum nelayan yang tinggal secara eksklusif secara permanen (tetap) dan (3) kaum nelayan yang tinggal menyendiri (eksklusif) meski sementara.
Di luar itu, sesungguhnya amat penting untuk tidak sekedar ingin mengetahui (keberagamaan nelayan), melainkan juga perlu tahu mengapa umumnya nelayan miskin. Apakah kemiskinan mereka ada kaitannya dengan “kekurangtepatan” memaknai “ajaran agama” itu sendiri? Jika ada hubungannya dengan itu, maka pertanyaan selanjutnya ialah: “Bagaimana menghadirkan ‘agama’ sebagai inspirator/ penggugah spirit etos kerja kaum nelayan? Pertanyaan semacam ini, akan berimplikasi kepada perlunya pemberdayaan.
1. Penutup
Hal-hal lain yang belum tertuliskan, disampaikan dalam presentasi dan diskusi. ***
________________________________________
[1] Guru besar Antropologi Budaya Universitas Diponegoro.
[2] Dalam penelitian kualitatif, hipotesis umumnya berujud hipotesis kerja, bukan hipotesis uji.
[3] Informasi penting artinya informasi (yang dikumpulkan) adalah relevan untuk membantu memahami realitas atau menjawab masalah penelitian. Karena itu, peneliti perlu secara kritis – selama mengumpulkan informasi – mempertimbangkan: “apa arti informasi ini dalam kaitannya dengan masalah penelitian”.
[4] Yang dikategorikan sebagai “data” adalah informasi yang terkait dengan unit analisis yang dipelajari. Jadi bukan semua ‘keterangan’ kendatipun relevan. Misalnya, “kegiatan ritual sedekah laut yang dilakukan oleh nelayan Bali”, bukanlah data penelitian, tetapi ia adalah informasi-komparatif. Sedang keterangan atau informasi itu sendiri dalam penelitian kualitatif perlu dilihat dalam konteks pandangan pelakunya (insider looking; actor’s view), bukan menurut kacamata peneliti sebagai orang luar.
[5] Data atau kumpulan informasi (yang telah diklasifikasi/dikategorisasi) dalam penelitian kualitatif, coraknya komprehensif, sehingga setiap item masalah harus digali dengan probing, misalnya dengan menggunakan rumus 5 w (what, where, when, who, why) dan 1 h (how). “Apa nama dari peristiwa yang diamati (ditanyakan), di mana (lokus, tempat) peristiwa itu berlangsung, kapan dan setiap apa peristiwa itu (misalnya sedekah laut) dilakukan, siapa saja partisipan (kelompok social, aliran keagamaan yang diikuti, atribut apa yang dipakai, pembagian peran dari partisipan itu sendiri, dsb), mengapa (dalam arti kebudayaan atau agama) kegiatan itu dilakukan oleh partisipan secara berulang, dan bagaimana sarana, prasarana, serta proses dari kegiatan tersebut.
[6] Yang dimaksud wawancara bukan sekedar aktivitas berdialog, tetapi juga diorientasikan kepada tujuan penelitian yaitu (informasi apa yang harus saya, siapa orang (informan) yang tepat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s