Merencanakan dan Mengaplikasikan Standar Isi dan Proses Pembelajaran

Latar Belakang
Menerapkan standar isi dan proses pembelajaran sebagai bagian dari sistem penyelenggaraan pendidikan telah menjadi pergerakan nasional dan menjadi bagian dari pembicaraan formal setiap hari. Ironisnya pembaharuan terdepan muncul dalam bentuk peningkatan hardware pada tiap sekolah sehingga peningkatan mutu pendidikan telah berdampak pendidikan semakin mahal.
Kelas yang ber-AC dan akses internet telah menjadi penanda kemajuan yang kasat mata. Penggunaan bahasa Inggris yang meningkat tajam dengan disertai tingginya motivasi guru untuk meningkatkan kompetensinya. Namun semakin kuat semangat pembaharuan itu, semakin besar kesadaran bahwa target yang diharapkan semakin jauh. Kembali ke jati diri pendidikan, bagaimana kita meningkatkan mutu pembelajaran bertaraf internasional dari standar isi dan proses?

Apakah itu standar?
Standar dalam UUSPN No. 20 tahun 2003 diberi makna kriteria minimal. Standar berarti batas, patokan dan syarat yang harus dicapai dalam proses peningkatan mutu. Batas-batas itu harus terukur sehingga indikatornya juga harus jelas.
Menurut Douglas (2002) standar itu aturan permainan yang terbuka. Digambarkan seperti pada saat anak-anak bermain congklak, salah satu anak berteriak ”Kamu bohong !” Dalam aktivitas anak-anak terdapat standar permainan.
• Standar itu pasti, misalnya dalam standar batas nilai minimal yang membantu siswa mencapai target.
• Standar merupakan ukuran keahlian atau kompetensi.
• Standar itu prestasi yang patut dicontoh.
• Standar itu tantangan.
• Standar itu hasil kesepakatan.
Ditegasnya pula bahwa dari hasil studi mengenai pendidikan baik dilihat dari prespektif teoritis maupun politis, Douglas menyatakan bahwa standar adalah efektif. Berkenaan dengan efektivitas menurut Osborne dan Gaebler (1999) standar selalu mendatangkan hasil yang lebih baik. Abin Syamsudin (1999) mendefinisikan bahwa efektif pada dasarnya menunjukan ukuran tingkat kesesuaian antara hasil yang dicapai (achievements, observed outputs) dengan hasil yang ditetapkan terlebih dahulu. Berdasarkan itu, maka standar adalah kriteria minimal yang harus dicapai yang ditetapkan pada saat menyusun perencanaan

Bagaimana menerapkan standar?
Penerapan standar berarti menerapkan manajemen scientific. Jadi, memerlukan langkah investigasi mengenai berbagai fenomena melalui kegiatan observasi dan analisis empiris mengenai berbagai peristiwa yang terukur. Memerlukan pemahaman mengenai tujuan yang hendak dicapai. Perlu menetapkan definisi proses pekerjaan. Perlu mengenali batas-batas pekerjaan dengan jelas. Menerapkan standar memerlukan pemahaman teori yang mendasari pekerjaan dan keterampilan, mengaplikasikan teori dalam pekerjaan sehari-hari. Berkaitan dengan aplikasi teori berarti pengelola perlu memahami perilaku yang diukur. Penerapan standar memerlukan penguasaan menjabarkan definisi konsep ke dalam definisi operasional (http://www.wikipedia.org/wiki/operasional).
Penerapan standar berdasarkan definisi dan prosedur di atas meliputi pentahapan 10 langkah berikut:
• Memilih teori yang mendasari pekerjaan
• Memahami bagaimana menerapkan teori pada pelaksanaan pekerjaan
• Mendefinisikan pekerjaan
• Menentukan tujuan pekerjaan dengan jelas
• Menjabarkan definisi konsep ke dalam definisi oprasional
• Menentukan indikator atau prilaku yang menjadi ukuran
• Menentukan ukuran, batas, patokan, kriteria, syarat minimal atau batas ketercapaian tujuan
• Melaksanakan observasi dan analisis atau menghimpun data ketercapaian tujuan
• Mengolah data ketercapaian
• Menetapkan batas pencapaian terhadap tujuan yang diharapkan
Uraian di atas menegaskan pentingnya data, mencatat data, mengolah data, dan menafsirkan data yang terkait pada pemenuhan batas yang ditetapkan.

Menerapkan Standar Isi dan Standar Proses
Penetapan standar terkait pada tiga masalah utama yang melekat pada sistem pengelolaan pendidikan. Permasalahan itu sebagaimana dirumuskan Fitzgibbons. Pertama, manusia seperti apa yang ingin dikembangkan melalui proses pendidikan? Kedua, apa yang harus diberikan? Ketiga, bagaimana memberikannya? (Supandi, 1988).
Tujuan adalah menentukan seluruh proses kegiatan. Kejelasan kompetensi lulusan merupakan syarat mutlak. Secara operasional pencapaian tujuan harus terdeskripsikan dan terukur dalam perbuatan siswa dalam kelas dan hasil pekerjaan mereka yang dipamerkan. Hubungan antara deskriptor kinerja siswa dengan tujuan tergambar dalam diagram standar belajar Illinois (1997) seperti berikut :

Definitions
performance standards: the knowledge and skills that students are to perform at various stages of educational development (performance descriptors) and the performance expectations (performance levels and assessment tasks) for student work (performance exemplars) at each of the stages.
performance descriptors: statements of how students can demonstrate the knowledge and skills they acquired.
performance levels: descriptions of how well students have achieved the standards; that is, the range, frequency, facility, depth, creativity, and/or quality of the knowledge and skills they acquired. Students can demonstrate levels of achieving performance standards along six dimensions:

PERFORMANCE
LEVEL = RANGE + FREQUENCY + FACILITY + DEPTH + CREATIVITY + QUALITY
Exceeding extensively consistently automatically profoundly inventively excellently
Meeting fully usually quickly deeply imaginatively well
Approaching partially occasionally haltingly cursorily commonly marginally
Starting narrowly rarely slowly superficially imitatively poorly

Deskripsi kinerja belajar seperti di atas pasti membuat guru tidak bisa mencukupkan materi belajar dengan hanya mengandalkan sebuah buku teks serta metode ceramah. Memerlukan lebih dari itu untuk memenuhi harapan yang lebih tinggi. Siswa harus mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilannya serta adanya perkembangan yang terdata.
Dalam membangun kinerja seperti itu, guru menyadari pentingnya mengukur dirinya sendiri dalam memenuhi standar penguasaan konsep, metode penelitian, disiplin sistem serta dalam mengkreasikan pengalaman belajar siswa. Evaluasi diri dapat menggunakan standar pemenuhan kompetensi guru seperti yang dirumuskan Departemen Pendidikan Illinois (2001) sebagai berikut:

Knowledge Indicators: The competent teacher
Understands major concepts, assumptions, debates, principles, and theories that are central to the discipline.
Understands the processes of inquiry central to the discipline.
Understands how students’ conceptual frameworks and their misconceptions for an area of knowledge can influence their learning.
Understands the relationship of knowledge within the discipline to other content areas and to life and career applications.

Guru memahami konsep, asumsi, perdebatan, prinsip disiplin teori yang menjadi dasar dalam perencanaan belajar dan mendisain pembelajaran. Memperhatikan kepentingan siswa, masyarakat dan tujuan kurikulum. Dengan begitu materi belajar akan menjadi bermakna bagi seluruh siswa. (Illinois Teaching Standard, 2001). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau RPP pada dasarnya merupakan prosedur untuk meningkatkan standar kompetensi siswa dalam menguasai materi belajar.
Untuk memahami lebih jauh tentang standar proses, dalam kesempatan ini perhatikan kompetensi dasar pada mata pelajaran Biologi SMA berikut ini:
” Menjelaskan keterkaitan struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem regulasi manusia (saraf, endokrin, dan penginderaan).”
Dalam perencanaan pembelajaran seorang guru menuliskan kegiatan inti pembelajaran pada materi di atas sebagai berikut :

Pendahuluan

1. Prasyarat pengetahuan :

Siswa telah mengetahui bagian-bagian tumbuh manusia
2. Apresepsi :

Siswa memperhatikan gambar tubuh manusia
3. Motivasi :

Siswa memperhatikan gambar susunan syaraf

o Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai
o Guru mengkondisikan siswa untuk berkelompok
o Guru memberi tiap kelompok sejumlah pertanyaan yang berbeda, kemudian siswa diminta membaca buku di perpustakaan.
o Guru membimbing dan mengarahkan kerja siswa Tiap kelompok mengerjakan lembar analisis hasil studi kepustakaan dengan berdiskusi
o Setelah selesai mengerjakan tugas kelompok siswa disuruh mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelompok lain di dalam kelas.
o Kelompok terbaik diberi reward
o Guru mengumpulkan hasil kerja siswa untuk dinilai
Sebagai pembanding kita mencoba melihat bagaimana Brian Miller dari Universitas Pittsburgh di Johnstown mengembangkan RPP sebagaimana terurai di bawah ini:
Tujuan ( Sasaran Umum)
Murid akan mampu untuk memahami organisasi umum dari sistem saraf manusia
Tujuan (Sasaran khusus)
Murid akan mampu untuk :

1. Mendata dua bagian dari sistem saraf pusat dan fungsi dasar mereka
2. Mendiskusikan fungsi dari empat bagian utama (cerebrum, cerebellum, cabang otak, dan hipotalamus) dari otak
3. Mendeskripsikan peran sistem saraf perifer dalam tubuh manusia
4. Membedakan antara neuron sensori dan neuron motorik
5. Menjelaskan bagaimana neuron mengirimkan impuls dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya

Bahan :
• Overhead proyektor
• Berbagai transparansi (pembagian sistem saraf, otak, bagan organisator dari sistem saraf perifer, neuron)
• Laboratorium komputer dengan satu buah komputer untuk setiap murid (dapat disesuaikan jika murid harus bekerja dalam kelompok pada setiap komputer atau jika guru memiliki komputer dengan kemampuan layar proyeksi yang lebar)
• Buku teks : Biology: Visualizing Life (Biologi : Gambaran kehidupan) diterbitkan oleh Holt, Rinehart, dan Winston, Inc, New York.

Prosedur :
Kegiatan 1 (3-5 menit)
Pembukaan Untuk Menarik Perhatian :
I. Guru akan menciptakan keributan yang keras, tanpa sebuah peringatan, menyebabkan murid memperlihatkan refleks
II. Tanyakanlah pada para murid :
1. Apa reaksi yang kamu lakukan? (mata berkedip, meloncat dari tempat duduk, merasa jantung hampir copot, dll)
2. Apakah kamu mengetahui sebutan untuk reaksi yang tidak disengaja ini? (refleks)
3. Apa yang ada dalam tubuh kamu yang menyebabkan terjadinya refleks? (saraf atau impuls saraf, sistem saraf)
III. Transisi ke pengajaran : ”Refleks adalah salah satu fitur (keistimewaan) dari sistem saraf pada manusia. Kita akan memulai pelajaran mengenai sistem saraf dengan mengamati organisasinya secara keseluruhan.”

Kegiatan 2 (8-10 menit)
Pengajaran singkat :
I. Organisasi dari sistem saraf pada manusia
A. Sistem Saraf Pusat (SSP)
1. Otak dan Saraf Sumsum Tulang Belakang
2. Pusat kendali tubuh

o Mengatur informasi yang masuk dari organ sensor dan reseptor
o Menghasilkan keluaran perintah ke berbagai organ tubuh
3. Menghubungkan keseluruhan tubuh dengan saraf sehingga membentuk kesatuan
B. Sistem Saraf Perifer
1. Gabungan antara neuron sensori dan neuron motor
2. Bertindak sebagai jaringan komunikasi yang bebas
3. Masing-masing menerima dari bagian tubuh yang berbeda
4. Membawa impuls saraf yang dikirim antara SSP dan bagian tubuh lainnya

II. Sistem Saraf Pusat
A. Otak dan Empat Bagian Utamanya

1. Cerebrum (Otak Besar)

o berkerut-kerut dilapisan terluarnya
o menangani fungsi-fungsi yang rumit dari otak (memproses gambar-gambar secara visual dan merencanakan sesuatu)
2. Cerebellum (Otak Kecil), penting untuk mengkoordinasikan gerakan
3. Brain stem (batang otak) yang mengontrol proses penting kehidupan yang dikendalikan secara tidak sadar (bernapas, mencerna, denyut jantung, dll)
4. Hipotalamus

o Pusat tubuh untuk emosi dan insting, seperti kesukaan, rasa sakit, lapar dan haus
o Mempertahankan keseimbangan suhu dan cairan dalam tubuh

B. Saraf Sumsum Tulang Belakang dari jaringan saraf yang merupakan

perluasan dari cabang otak bagian bawah ke belakang.

1. Impuls saraf dari tubuh dan otak baik secara mengarah ke atas maupun ke bawah
2. Komponen penting dalam terjadinya refleks
3. Dikelilingi dan dilindungi oleh tulang punggung
III. Sistem saraf Perifer
A. Neuron sensori

1. Membawa impuls saraf dari organ perasa ke reseptor di Sistem Saraf Pusat (SSP)
2. Juga ditunjukkan sebagai neuron afferent

B. Neuron motorik

1. Membawa impuls saraf dari SSP ke otot & kelenjar
2. Juga ditunjuk sebagai neuron efferent
Peralihan ke Kegiatan 3 : “Terdapat berbagai macam penerima (reseptor) sensor dalam tubuh kita. Sebagai contoh, mata kita, yang dianggap sebagai organ indera, memuat reseptor yang disebut batang dan kerucut (rods and cones). Saya ingin kita berpikir selama beberapa saat mengenai lokasi dari berbagai reseptor yang terletak di seluruh tubuh kita.”

Kegiatan 3 (8-10 menit)
Kegiatan Belajar Kooperatif (Bersama)

1. Murid akan berpasangan dalam kelompok yang terdiri dari 3 orang

o Satu orang anggota kelompok akan menjadi pencatat/notulen (menulis pikiran dan ide dalam kertas/laporan)
o Satu orang anggota kelompok akan menjadi juru bicara kelompok dalam diskusi kelas
o Satu orang anggota kelompok akan menjadi ”manajer” (memastikan semuanya berjalan lancar)
2. Masing-masing kelompok akan diperintahkan untuk :

o Daftarkan 3 atau 4 lokasi dimana reseptor sensor dapat ditemukan pada dan di dalam tubuh kita (coba untuk berpikir setidaknya satu yang tidak terkait dengan organ indera). Jawaban yang memungkinkan : pada kulit kita – saat ada perubahan suhu; semua jaringan dan organ (terkecuali otak) – saat kesakitan; pada otot kita – saat ada tekanan dan kontraksi/relaksasi otot; perasa pada lidah; reseptor (neuron penciuman) pada hidung; reseptor di dalam telinga.
o Jika neuron sensor membawa impuls saraf dari reseptor sensor ke sistem saraf pusat, pikirkan olehmu apa yang dilakukan oleh neuron motor? Jawaban : membawa informasi dari sistem saraf pusat ke otot, kelenjar, dan/atau organ perasa yang terkait sehingga dapat menanggapi impuls yang dikirim oleh neuron sensori.
3. Diskusi kelas mengenai jawaban para murid

o Peralihan ke Kegiatan 4: “Jadi pada dasarnya, reseptor sensor memberi reaksi pada perubahan di dalam dan di luar tubuh kita. Secara internal mereka mendeteksi hal-hal seperti perubahan tekanan, rasa sakit, keseleo pada otot; secara eksternal mereka mendeteksi perubahan cahaya, suara, dan suhu.”

Kegiatan 4 (15-20 menit)
Ringkasan/Kesimpulan
Neuron Sensori dan Motor: Pasangan dalam Mentransmisikan Impuls Saraf (tinjauan singkat)

• Sensori – membawa impuls dari reseptor sensor ke SSP
• Motor – membawa informasi kembali dari reseptor sensor sehingga otot, kelenjar, dan organ terkait dapat beraksi sewajarnya
• Saraf sumsum tulang belakang – saraf sensor masuk ke arah dalam dan saraf motor ke arah luar

Dari model RPP itu tercermin kompetensi apa yang perlu guru kuasai dan kompetensi siswa seperti apa yang diharapkan. Dalam model di atas yang dapat kita amati adalah bagaimana guru mengurai materi dengan lengkap sehingga RPP dapat menjadi acuan siapa pun. Perilaku guru yang dapat diamati di antaranya dalam:

• Penguasaan materi belajar dilihat dari uraian materi yang rinci dan jelas.
• Penguasaan pada perancangan disain kegiatan belajar.
• Penguasaan teknologi.
• Penguasaan sumber belajar untuk siswa.
• Menentukan keluasan dan kedalaman dalam menguraikan materi belajar.
• Memilih metode mengajar yang sejalan dengan tingkat perkembangan teknologi.
• Sumber belajar yang digunakan guru serta yang disajikan sebagai sumber belajar siswa.
• Kecerdasan yang guru kembangkan.

Dengan membandingkan dua model rencana pembelajaran di atas, maka kita dapat menyatakan bahwa model kedua lebih efektif sehingga dapat memenuhi harapan meningkatnya kebebasan berpikir siswa sebagaimana yang ditetapkan dalam PP 19 tahun 2005 tentang aktivitas intelektual berupa kegiatan berpikir, berargumentasi, mempertanyakan dan mengkaji siswa terpenuhi.
Persoalan ketiga adalah bagaimana menyusun RPP selengkap itu, sekali pun model yang kedua lebih memungkinkan membangun proses interaksi guru dengan siswa serta siswa dengan siswa lebih efektif. Model RPP atau lesson plan yang kedua memungkinkan mendorong terwujudnya indikator-indikator keberhasilan guru dalam membimbing dan memfasilitasi siswa seperti di bawah ini:

Focus and support inquiries while interacting with students.
Orchestrate discourse among students about scientific ideas.
Challenge students to accept and share responsibility for their own learning.
Recognize and respond to student diversity and encourage all students to participate fully in science learning.
Encourage and model the skills of scientific inquiry, as well as the curiosity, openness to new ideas and data, and skepticism that characterize science.(Illinois, 2001)

Sebagai penguatan atas konsep di atas, salah satu model yang dapat diterapkan untuk meningkat standar proses pembelajaran adalah model siklus belajar yang meliputi empat langkah seperti di bawah ini.
The Learning Cycle: A Model of Learning
(http://agpa.uakron. edu/k12/best_practices/ learning_cycle.html)
Engage
Its purpose is to initiate the learning task by making connections between past and present learning experiences and mentally engaging students in the concept process or skills to be explored. Explore
The purpose is to provide a common base of experience within which students identify and develop current concepts, processes or skills. Students use active learning to manipulate materials or explore the environment.
Explain
The purpose is to provide opportunities for learners to develop explanations of concepts that they have been exploring. Students use active learning to manipulate material or explore the environment.
Elaborate
Students develop deeper and broader conceptual understanding and practice applying newly acquired skills and behavior.
Evaluate
This is the time to assess the students’ understanding and abilities and provide teachers with a tool for evaluation. Students are provided with opportunities for self-assessment throughout the Learning Cycle.

Yang menjadi fokus perhatian di sini adalah bagaimana belajar berkelanjutan terjadi dengan dukungan interaksi guru dengan siswa, interaksi atau kerja sama antar siswa, tantangan dan tanggung jawab siswa dalam mengembangkan daya belajar mandiri berlangsung efektif. Guru memahami keragaman siswa dalam berpartisipasi, dan yang tidak kalah pentingnya adalah mengembangkan keterampilan scientific, kecerdikan, keterbukaan ide, serta sikap skeptis sebagai peneliti. Dan, yang lebih penting dari itu guru menjadi pembelajar yang lebih cepat, lebih aktif dan lebih banyak daripada siswanya sendiri.

Kesimpulan
Menerapkan standar isi dan proses pembelajaran secara operasional sangat bergantung pada tinggi rendahnya tujuan yang hendak dicapai. Kompetensi guru memahami teori belajar dan konsep materi yang akan guru ajarkan, kompetensi guru dalam merancang pengalaman belajar siswa, teknologi pendukung, dan rujukan mutu yang digunakan sebagai pembanding. Tinggi rendahnya standar yang guru tetapkan sebanding dengan aktivitas guru dalam kegiatan yang nyata dilakukannya sehari-hari mengenai :

1. Banyak membaca buku, jurnal, atau sumber bacaan siswa
2. Lamanya guru pada tiap hari menggunakan komputer
3. Guru menggunakan internet untuk memperoleh informasi
4. Banyaknya mitra dialog dalam berkomunikasi melalui internet
5. Banyaknya negara yang menjadi mitra komunikasi
6. Banyaknya hal baru yang dikembangkannya dalam perencanaan belajar
7. Terbaharukannya teori yang menjadi dasar melakukan pekerjaan
8. Banyaknya metode yang dikusai dalam menyampaikan pelajaran dalam kelas
9. Perangkat teknologi yang digunakannya dalam pembelajaran
10. Memiliki dan terpenuhinya kriteria atau standar produk belajar siswa yang kompetitif sehingga mendapat penghargaan masyarakat lokal, nasional atau internasional

Dan banyak indikator lain yang menunjukan bahwa guru adalah pembelajar. Indikator-indikator itu mendeskripsikan bahwa sebelum menetapkan indikator isi maupun proses pembelajaran, mengandung syarat untuk menetapkan standar pengelolanya terlebih dahulu, kepala sekolahnya, gurunya harus jujur untuk menerapkan standar pada dirinya sendiri dengan penuh disiplin, jujur, terbuka, dan konsisten.
Referensi :
Abin Samsudin Makmun, (1999). Analisis Pembangunan Pendidikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Biro Perencanaan Sekretariat Jendral. Jakarta
Douglas B. Reeves, (2002) The Leader’s Guide to Standards: Blueprint for Educational Equity and Excellence, Jossey-Bass, Wiley Imprint.

http://www.americanchemistry.com/hops2/introduction/default.asp
http://www.eduref.org/Virtual/Lessons/Science/Anatomy/ANA0200.html
http://www.isbe.net/profprep/PDFs/pts.pdf
http://en.wikipedia.org/wiki/Scinetific management
Markham, K. (1993). Standards for Student Performance. [Online]. Tersedia :http//eric.uoreqon. edu/publications/digests/digest081.html [3 Mei 2006].
Osborne, & Plastrik, P. (2001). Memangkas Birokrasi : Lima Strategi Menuju Pemerntahan Wirausaha. Penerjemah Abdul Rosid & Ramelan. Jakarta : Penerbit PPM.
Supandi dan Sanusi. A. (1988). Kebijaksanaan dan Keputusan Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Sumber Lengkap : http://gurupembaharu.com/pengelolaan_/implementasi_pengelolaan/disiplin-dalam-merencanakan-dan-mengaplikasikan-standar-isi-dan-proses-pembelajaran/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s